RSS

YANG TERINDAH SEKALIGUS MENYAKITKAN


September, 24 – 2009.
          Hari yang tak terlupakan. Dia menjadi milikku. Awal hari-hariku berubah menjadi lebih indah. Tidak ada lagi kata kesepian, sendirian, butuh perhatian dan Jomblo :D
Semuanya terasa indah. Dia yang mampu mengambil separuh hati ini. Dia yang telah mengisi keseharianku dengan hal-hal konyol. Dia yang membuat aku tahu bagaimana rasanya menyayangi seseorang dan rasanya disayangi, bagaimana rasanya dipedulikan dan mempedulikan, diperhatikan dan memperhatikan. Hampir setiap hari kita bersama. Kita banyak perbedaan, namun kita bisa mengatasi semua itu.

          Pada hari itu, Mama nya marah. Kita dilarang bertemu. Tapi, Dia tidak menghiraukan larangan itu. Dia tetap menemuiku seperti biasanya. Hingga beberapa kali aku sempat ditegur mama-nya. Putus? Hey, semudah itukah kita menyerah? Kita pasti bisa bertahan :) Dia membawaku kerumah untuk bertemu mama-nya. Ya, rasa grogi itu menguasai diri ini. Namun, rasa sayang yang menghapuskan grogi itu. Banyak percakapan kami. Semua nasihat mama-nya aku dengarkan dengan baik. Mama-nya tidak melarang lagi aku dekat dengan Dia, dengan syarat aku memberi pengaruh baik untuk Dia, begitupun sebaliknya.

          Baru beberapa hari dari persetujuan itu, ada pertengkaran kecil antara aku dengan Dia. Biasa.. cemburu buta. Satu tahun telah kita lewati bersama, mengapa harus ada peristiwa itu??? Tidak berartikah satu tahun itu? Masih tidak percaya?

        Entah mengapa setiap kali Dia meminta maaf, hatiku begitu mudah memaafkan. Semuanya berjalan seperti biasa lagi. Memang rasa tidak percaya dan penasaran kerap kali menghampiri karena kita beda sekolah. Tak jarang aku mendengar kabar tidak baik tentang Dia dari teman-teman sekolahnya. Namun tidak begitu saja aku percaya. 
      
         Ada satu berita yang benar-benar menyakitkan dan itu terbukti benar. Dia pergi dengan gadis lain yang ternyata pacar barunya. Awalnya aku kira ini hanya bercanda, tapi setelah ku tanya, dan Dia menjawab dengan jujur. “Iya, Dia pacar aku, aku minta maaf. Aku khilaf.” Sungguh pernyataan yang sulit untuk diterima. Serasa ada bom yang meledak dihati ini. Tak kuasa menahan bendungan air mata ini, entah aku harus mengatakan apa lagi. Dengan isak tangis aku pun mengatakan “maaf? khilaf? tidak berartikah satu tahun yang kita lewati? pernahkah aku menyakiti hatimu seperti ini? apa dia lebih baik dari aku?” Dia tidak berbicara panjang lebar, hanya langsung memelukku dan berkata “Kamu wanita yang paling aku sayangi setelah Mamaku. Maafkan aku telah membuatmu menangis. Sungguh aku sangat menyesal”. Aku menjauh darinya. Untuk kali ini hatiku sulit memberi maaf. Ini goresan luka yang sangat dalam. Bagaimana mungkin aku bisa mempertahankannya? “Maaf. Aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Mungkin kamu akan lebih bahagia bersama Dia. Satu tahun yang sangat berarti. Yang terindah sekaligus menyakitkan.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment