RSS

Anak Penjual Bumbu Pecel



Anak Penjual Bumbu Pecel

Angin semilir membawa daun-daun terbang
Sawah yang hijau membentang memberi pemandangan yang indah
Orang-orangan sawah berdiri ditengah bentangan sawah
Burung-burung mulai menghampiri orang yang terbuat dari kayu itu
Semilir angin membuat tanaman padi menari-nari
Suara gemercik air sungai menambah kesejukan
Bebek mulai beriringan menuju peternakan
Hilir mudik petani sambil membawa kerbau untuk membajak sawah menghiasai pemandanganku
Aku duduk disebuah balai terbuat dari bamboo, tepatnya dibawah pohon yang rindang
Sejauh mata memandang semua terlihat hijau
Sungguh suasana pedesaan yang asri. Berbeda dengan di Kota.
Disini tidak ada polusi asap kendaraan. Penduduk di desa ini mayoritas berkendaraan sepeda ontel, tidak ada kebisingan. Aku bersantai ditemani oleh novel dan sajian the hangat.
          Beberapa saat kemudian, matahari mulai tertutupi awan. Awan yang cerah berubah menjadi gumpalan yang hitam. Terdengar suara geledek disertai dengan kilat petir. Ini pertanda akan turun hujan. Aku enggan untuk masuk kedalam. Akhirnya aku hanya pindah ke teras depan rumah. Tetap saja pemandangan hijau dapat ku lihat. Rintik-rintik air mulai berjatuhan, semakin banyak dan hujanpun turun, Dengan suasana hujan seperti ini menjadikan aroma pedesaan sangat terasa kental.
          Dari kejauhan terlihat ada seorang lelaki yang sedang mengayuh sepedanya sambil kehujanan. Orang itu semakin dekat. Tiba-tiba ia berhenti dibawah pohon besar, sambil menurunkan suatu keranjang. Oh My God, ternyata dia seorang anak kecil. Apa yang dia lakukan sampai kehujanan seperti itu???
          Aku tidak tega melihat dia kehujanan seperti itu. Aku segera mengambil paying dan bergegas menghapirinya. “Dik, apa yang sedang kamu lakukan disini?” tanyaku sambil memayunginya. “Saya sedang menjalankan kewajiban mbak”. Dia menjawab menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus. Itu sudah aku terjemahkan ya! “Kewajiban? kewajiban apa? itu kamu bawa apa?” lanjut tanyaku. “Iya kewajiban. Oh ini bumbu pecel mbak, apakah mbak mau beli? harga satunya Rp. 5.000” percakapan kami berlangsung ditengah derasnya hujan, dibawah paying ini. Ternyata anak itu adalah penjual bumbu pecel. Dia menawarkan dagangannya keadaku. Untuk apa aku membeli bumbu pecel? tapi kasihan anak itu jika aku tidak membelinya. “Aduh dik, nanti ya, sekarang kamu neduh kerumah aku dulu yuk!” Jawabku. “tidak bisa mbak. saya harus lanjut menjual bumbu pecel ini.” dia menjawab dengan sangat ramah dan lembut. Akhirnya aku menemaninya menjual bumbu pecel itu ke rumah demi rumah. Sungguh sangat miris melihat anak ini dan orang-orang tidak ingin membeli dagangannya. “mbak, apa mbak tidak mau membeli dagangan saya? dicoba dulu mbak!” tuturnya kepadaku dengan sedikit memaksa. “aduh dik, tapi aku tidak suka pecel, ibuku juga belum tentu mau” jawabku. “ayolah mbak dicoba dulu. mbak tidak akan tahu rasanya kalau belum mencoba. Dan kalau dagangan saya ini tidak habis, saya akan dimarahi nenek saya.” penjelasannya seperti orang dewasa saja. Akhirnya aku bilang akan membelinya asal dia mau berteduh dirumahku. “baiklah aku akan membeli 5 bumbu pecelmu, tapi kamu harus neduh kerumahku dulu ya!” Raut wajahnya langsung ceria ketika mendengar aku ingin membeli bumbu pecelnya.
          Setiba dirumahku, nenekku memberi handuk untuknya dan membeli 5 pecel itu. Setelah aku berbincang dengannya, sungguh tak menyangka ternyata anak penjual bumbu pecel itu baru berusia 11 tahun, masih SD. Rumahnya 5 KM dari desaku ini. Bayangkan anak seusianya harus menjual bumbu pecel dengan jarak 5 KM menggunakan sepeda tuanya. Itu ia lakukan hanya demi mengumpulakn rupiah selembar demi selembar untuk menghidupi Ia, Ibu dan neneknya. Anak itu bahkan rela kehujanan hanya demi menjual dagangannya. Pekerjaan itu ia lakukan sepulang sekolah.
          Aku bangga dengan anak penjual bumbu pecel itu. Memiliki semangat yang tinggi, tidak kenal lelah. Ia beda denga anak-anak seusianya. Ia sudah harus merasakan getirnya kehidupan. Dan aku bersyukur karena ternyata masih banyak orang diluar sana yang tidak seberuntung diriku. Hari ini aku mendapat satu pelajaran berharga dari anak penjual bumbu pecel.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UJIAN TINGKAT I



UJIAN TINGKAT I

          Disebuah desa hiduplah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Terdiri dari sepasang kakek dan nenek yang mempunyai enam orang anak. Dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Lima anaknya telah berkeluarga. Anak terkahirnya belum berkeluarga. Dua anak perempuannya merantau ke Kota lain. Satu anak lelakinya sudah punya rumah sendiri. Yang tinggal bersama kakek dan nenek yaitu satu anak lelakinya dan dua anak perempuannya.
          Mereka hidup sangat sederhana, serba berkecukupan, bahkan tak jarang pula kekurangan. Mata pencaharian di desa ini yaitu bertani. Kakek dan nenek yang sudah sepuh itupun masih menjadi petani. Anak pertamanya perempuan, ia mempunyai satu anak lelaki yang sekarang telah berusia 14 tahun, namnya Dani. Dani sekarang duduk dikelas 2 SMP. Anak pertama nenek itu ditinggal suaminya berpulang ke Rahmatullah saat ia melahirkan Dani. Pada saat itu sang suami kecelakaan . Dani pun menjadi anak yatim sejak lahir. Anak kedua dan ketiga nenek adalah laki-laki. Dua-duanya telah mempunyai tiga orang anak. Anak ke empat telah mempunyai tiga orang anak, sedangkan anak kelima telah mempunyai dua orang anak. Mereka berdua merantau bersama suaminya. Mereka pulang ke desa ini setahun sekali bahkan dua tahun sekali. Meskipun demikian, keluarga tersebut hidup rukun dan berkomunikasi degan baik.
          Pada suatu ketika, keluarga ini diberi suatu ujian dari Allah. Anak pertama nenek dan kakek itu terjangkit suatu penyakit. Ia selalu pingsan ditempat kerjanya. Namun nenek dan kakek tidak sannggup untuk membawa sang anak ke rumah sakit, sehingga sang anak hanya beristirahat dirumah. Penyakit itu tak kunjung sembuh. Dua anaknya yang merantau itu meminta kakek untuk mebawa sang kakak ke rumah sakit, untuk biayanya sudah di transfer. Kakek pun menurutinya.
          Keesokan paginya, kakek dan nenek membawa sang anak ke rumah sakit. Sebenarnya dokter tidak tega untuk menyampaikan kepada kakek dan nenek mengenai penyakit yang diderita sang anak. Namun biar bagaimanapun kakek dan nenek berhak tahu. “Yang sabar ya Pak, Bu! Anak Bapak dan Ibu menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali”. Mendengar perkataan dokter tersebut sang kakek dan nenek terkejut dan terdiam. Mereka sangat tidak menyangka anaknya menderita gagal ginjal.
          Sesampainya dirumah, kakek dan nenek memberitahu tentang penyakit itu kepada sang anak, lalu ke seluruh anggota keluarganya. Satu keluarga tersebut bingung bagaimana caranya mendapatkan biaya yang sangat besar itu untuk cuci darah seminggu sekali.
          Sebulan pertama bisa menjalani cuci darah dengan rutin. Sang anakpun masih bisa bekerja seperti biasa. Oh ya, Dani sampai sekarang belum mengetahui penyakit Ibunya itu. Kakek dan nenek tidak tega untuk memberitahukannya. Bulan kedua keluarga itu sudah tidak punya biaya untuk melakukan cuci darah, sehingga hanya beristirahat dirumah. Semakin hari tubuhnya semakin kurus dan lemas, wajahnya semakin pucat. Saat Dani pulang sekolah, ia melihat sang Ibu tergeletak pingsan dirumah. Dani bergegas menolong Ibunya. Pada hari itu rumah sangat sepi, kakek dan nenek ke sawah. Jadi hanya Dani yang mengurus Ibunya.
          Sore harinya, Dani bertanya kepada kakek dan nenek Ibu sakit apa? dengan berat hati dan rasa kasihan, kakek dan nenek akhirnya memberitahu Dani, “Nak, Ibumu menderita gagal ginjal”. Saat mendengar kabar itu Dani biasa saja, karena Dani tidak paham betul tentang gagal ginjal.
          Keesokan harinya disekolah, Dani sedang belajar IPA. Danipun bertanya pada Ibu guru, “Bu, apakah penyakit gagal ginjal itu dapat disembuhkan?” Ibu guru menjawab, “Ya dapat disembuhkan, tapi sebagian besar pengidap penyakit gagal gijal umurnya tidak lama lagi, tapi semua itu kita kembalikan lagi kepada Sang Maha Pencipta”. Dani tidak bertanya lagi. Pikirannya langsung tertuju kepada Ibu dirumah.
          Sepulang sekolah, rumahpun sepi seperti biasa. Namun Ibu Dani tidak ada dirumah, kemana? tetangganya mengatakan bahwa tadi Ibu Dani dibawa kerumah sakit. Dani bergegas menuju rumah sakit yang jaraknya jauh dari rumah, menggunakan sepedanya. Sesampainya disana Dani diperbolehkan untuk membesuk Ibunya. Dani menahan airmata yang sejak tadi ingin menetes. Sang Ibu tersadar dan sempat berbicara. “Nak, kamu sudah pulang sekolah? Sudah makan?” Tanya sang Ibu kepada anaknya dengan suara yang amat pelan dan lemas. Dani menjawab “Sudah bu. Ibu jangan banyak memikirkan aku ya, aku bisa mengurus diriku sendiri bu. yang penting Ibu harus cepat sembuh ya”.
          Tidak lama kemudian ada yang masuk keruangan itu. Mereka dua orang. Lelaki dan perempuan. Dani tidak mengenal orang itu. Sangat terlihat aneh. Tamu itu memakai pakaian serba hitam. Si perempuan memakai jilbab hitam dengan memakai cadar pula. Dani bertanya mereka siapa? sang pria hanya menjawab “kami teman Ibumu. bisakah kamu keluar sebentar? saya ingin berbicara dengan ibumu.” Danipun segera keluar dan menunggu didepan pintu. Beberapa menit kemudian Sang Ibu kejang – kejang , Dani segera masuk, tapi saat Dani masuk, dua orang tamu tadi tidak ada didalam. Ada apa ini? mereka sebenarnya siapa? mengapa saat mereka masuk, Ibu langsung seperti ini? dan kemana perginya mereka?

Bersambung…..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rambu Lalu Lintas Bukan Hiasan



Rambu Lalu Lintas Bukan Hiasan

          Rambu Lalu Lintas, ya kita sering jumpai dijalan raya. Apa yang kita pikirkan jika mendengar kata rambu lalu lintas?
          Gue bingung deh kenapa lampu lalu lintas yang ada tiga warna itu kita sebutnya LAMPU MERAH??? Padahal ka nada tiga warna. Kenapa gak kita sebut lampu hijau atau lampu kuning gitu? Hmm.. entahlah sampai sekarang gue juga nggak ngerti.
          Rambu lalu lintas dibuat supaya para pengendara atau pengguna jalan tertib dijalan raya, juga dapat mengurangi risiko kecelakaan. Tetapi pengguna jalan sendiri yang membuat kesempatan kecelakaan dapat terjadi  dengan tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang ada. Biasalah kalau kata orang sih peraturan di Indonesia dibuat untuk dilanggar. Hahahaha.. :D Benar nggak sih? Kalau dilihat-lihat ya emang begitu sih ya.
          Gue yakin para pengguna jalan itu mengerti dengan semua rambu-rambu lalu lintas (kalau yang bikin SIM nya nggak nembak ya), mereka juga pasti tahu K3 dalam berkendara, mereka juga tahu akibat dari melanggar rambu-rambu lalu lintas. Tapi kenapa tetap melanggar ya? Itu sama saja mereka menabuh gendering perang :D hahaha.
Gue pernah sedikit nanya-nanya ke pengendara yang melanggar rambu lalu lintas mengenai alasan mereka melanggar. Dan beberapa alasannya yaitu :
-->  Saya lagi buru-buru (ya terus kalau buru-buru bisa melanggar rambu-rambu lalu lintas gitu? Lo pikir ini jalan punya keluarga lo??)

-->  Saya nggak lihat kalau lampu merah (eettdaahh lampu sebesar dan setinggi itu masih nggak kelihatan? Lo ngendarain nya merem kali.)

-->  Saya tadi lihat ada polisi yang menerobos juga, jadi saya ikutin saja. (nah ini nih , penegak hukum jalan raya saja tidak mematuhi rambu lalu lintas, jadi jangan heran kalau rakyatnya juga ikutan melanggar. Tapi lo kan udah tahu kalau itu polisi bertindak salah, kenapa lo ikutin juga? itu berarti lo bodoh! Masa nyontoh yang nggak benar sih)

-->  Saya nggak tahu arti dari rambu tersebut apa. (hurus S disilang aja lo nggak tahu artinya? yah lo sih waktu bikin SIM nya nembak! Makanya yang jujur dong! Ikutin aturan yang ada!) Dan yang terakhir,

-->  Lampu merahnya mati, jadi saya jalan terus deh. (Hey mas, pak, mbak, kalau lampunya mati kan disitu ada polentas “Polisi Lalu Lintas” yang mengatur, nggak lihat? )
          Memang sih kita menjumpai beberapa lampu lalu lintas yang tidak berfungsi . Seharusnya pihak JasaMarga memperhatikan hal ini. Ya walaupun sudah ada polentas yang mengarahkan, tapi tetap saja situasi jalan raya menjadi semakin semrawut. Dan hal tersebut bukan alasan untuk tidak mematuhi peraturan rambu lalu lintas dong! Peraturan ya tetap peraturan, yang harus dipatuhi.
Well.. siapa yang masiih seperti itu??? Jangan diteruskan ya! Jalan Raya milik kita bersama, jadi patuhilah semua rambu lalu lintas yang ada. Jaga ketertiban jalan raya, dan yang paling penting yaitu K3 dalam berkendara harus diperhatikan!
--> Pakai helm jangan hanya karena takut kena tilang!
--> Pakai masker jangan hanya untuk gaya-gaya’an!
--> Pakai sarung tangan jangan hanya karena takut belang!
Tapi itu semua untuk keselamatan diri kita. SADARILAH!!!
Mulai sekarang contoh yang baik, jangan yang buruk! Disiplin berlalu lintas. Dan ingat, RAMBU LALU LINTAS BUKAN HIASAN! :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ILUSI DI PAGI HARI



ILUSI DI PAGI HARI

Ku dengar suara jam berdenting
Ku dengar suara ayam berkokok
Ku dengar merdu kicauan burung
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari Masjid telah dikumandangkan
Dan aku mendengar suara ramai adik-adikku
Suara Ibu yang membangunkan aku
Aku mencium aroma sedap masakan Ibu
Lalu aku terjaga dari tidurku
Ku buka jendela,
Sang Surya mulai terlihat
Berarti ini sudah pagi
Ku pandangi semua sudut rumah,
Ku tengok dapur,
Dan semua kosong, sunyi sepi
Ternyata aku HANYA BERILUSI
Aku hanya sedang merindukan Ibu dan Adik-adikku.
SEMANGAT PAGI!!! ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS