RSS

UJIAN TINGKAT I



UJIAN TINGKAT I

          Disebuah desa hiduplah sebuah keluarga yang sangat sederhana. Terdiri dari sepasang kakek dan nenek yang mempunyai enam orang anak. Dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Lima anaknya telah berkeluarga. Anak terkahirnya belum berkeluarga. Dua anak perempuannya merantau ke Kota lain. Satu anak lelakinya sudah punya rumah sendiri. Yang tinggal bersama kakek dan nenek yaitu satu anak lelakinya dan dua anak perempuannya.
          Mereka hidup sangat sederhana, serba berkecukupan, bahkan tak jarang pula kekurangan. Mata pencaharian di desa ini yaitu bertani. Kakek dan nenek yang sudah sepuh itupun masih menjadi petani. Anak pertamanya perempuan, ia mempunyai satu anak lelaki yang sekarang telah berusia 14 tahun, namnya Dani. Dani sekarang duduk dikelas 2 SMP. Anak pertama nenek itu ditinggal suaminya berpulang ke Rahmatullah saat ia melahirkan Dani. Pada saat itu sang suami kecelakaan . Dani pun menjadi anak yatim sejak lahir. Anak kedua dan ketiga nenek adalah laki-laki. Dua-duanya telah mempunyai tiga orang anak. Anak ke empat telah mempunyai tiga orang anak, sedangkan anak kelima telah mempunyai dua orang anak. Mereka berdua merantau bersama suaminya. Mereka pulang ke desa ini setahun sekali bahkan dua tahun sekali. Meskipun demikian, keluarga tersebut hidup rukun dan berkomunikasi degan baik.
          Pada suatu ketika, keluarga ini diberi suatu ujian dari Allah. Anak pertama nenek dan kakek itu terjangkit suatu penyakit. Ia selalu pingsan ditempat kerjanya. Namun nenek dan kakek tidak sannggup untuk membawa sang anak ke rumah sakit, sehingga sang anak hanya beristirahat dirumah. Penyakit itu tak kunjung sembuh. Dua anaknya yang merantau itu meminta kakek untuk mebawa sang kakak ke rumah sakit, untuk biayanya sudah di transfer. Kakek pun menurutinya.
          Keesokan paginya, kakek dan nenek membawa sang anak ke rumah sakit. Sebenarnya dokter tidak tega untuk menyampaikan kepada kakek dan nenek mengenai penyakit yang diderita sang anak. Namun biar bagaimanapun kakek dan nenek berhak tahu. “Yang sabar ya Pak, Bu! Anak Bapak dan Ibu menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali”. Mendengar perkataan dokter tersebut sang kakek dan nenek terkejut dan terdiam. Mereka sangat tidak menyangka anaknya menderita gagal ginjal.
          Sesampainya dirumah, kakek dan nenek memberitahu tentang penyakit itu kepada sang anak, lalu ke seluruh anggota keluarganya. Satu keluarga tersebut bingung bagaimana caranya mendapatkan biaya yang sangat besar itu untuk cuci darah seminggu sekali.
          Sebulan pertama bisa menjalani cuci darah dengan rutin. Sang anakpun masih bisa bekerja seperti biasa. Oh ya, Dani sampai sekarang belum mengetahui penyakit Ibunya itu. Kakek dan nenek tidak tega untuk memberitahukannya. Bulan kedua keluarga itu sudah tidak punya biaya untuk melakukan cuci darah, sehingga hanya beristirahat dirumah. Semakin hari tubuhnya semakin kurus dan lemas, wajahnya semakin pucat. Saat Dani pulang sekolah, ia melihat sang Ibu tergeletak pingsan dirumah. Dani bergegas menolong Ibunya. Pada hari itu rumah sangat sepi, kakek dan nenek ke sawah. Jadi hanya Dani yang mengurus Ibunya.
          Sore harinya, Dani bertanya kepada kakek dan nenek Ibu sakit apa? dengan berat hati dan rasa kasihan, kakek dan nenek akhirnya memberitahu Dani, “Nak, Ibumu menderita gagal ginjal”. Saat mendengar kabar itu Dani biasa saja, karena Dani tidak paham betul tentang gagal ginjal.
          Keesokan harinya disekolah, Dani sedang belajar IPA. Danipun bertanya pada Ibu guru, “Bu, apakah penyakit gagal ginjal itu dapat disembuhkan?” Ibu guru menjawab, “Ya dapat disembuhkan, tapi sebagian besar pengidap penyakit gagal gijal umurnya tidak lama lagi, tapi semua itu kita kembalikan lagi kepada Sang Maha Pencipta”. Dani tidak bertanya lagi. Pikirannya langsung tertuju kepada Ibu dirumah.
          Sepulang sekolah, rumahpun sepi seperti biasa. Namun Ibu Dani tidak ada dirumah, kemana? tetangganya mengatakan bahwa tadi Ibu Dani dibawa kerumah sakit. Dani bergegas menuju rumah sakit yang jaraknya jauh dari rumah, menggunakan sepedanya. Sesampainya disana Dani diperbolehkan untuk membesuk Ibunya. Dani menahan airmata yang sejak tadi ingin menetes. Sang Ibu tersadar dan sempat berbicara. “Nak, kamu sudah pulang sekolah? Sudah makan?” Tanya sang Ibu kepada anaknya dengan suara yang amat pelan dan lemas. Dani menjawab “Sudah bu. Ibu jangan banyak memikirkan aku ya, aku bisa mengurus diriku sendiri bu. yang penting Ibu harus cepat sembuh ya”.
          Tidak lama kemudian ada yang masuk keruangan itu. Mereka dua orang. Lelaki dan perempuan. Dani tidak mengenal orang itu. Sangat terlihat aneh. Tamu itu memakai pakaian serba hitam. Si perempuan memakai jilbab hitam dengan memakai cadar pula. Dani bertanya mereka siapa? sang pria hanya menjawab “kami teman Ibumu. bisakah kamu keluar sebentar? saya ingin berbicara dengan ibumu.” Danipun segera keluar dan menunggu didepan pintu. Beberapa menit kemudian Sang Ibu kejang – kejang , Dani segera masuk, tapi saat Dani masuk, dua orang tamu tadi tidak ada didalam. Ada apa ini? mereka sebenarnya siapa? mengapa saat mereka masuk, Ibu langsung seperti ini? dan kemana perginya mereka?

Bersambung…..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Post a Comment